KEPADATAN DAN KESESAKAN

Posted: March 24, 2011 in Psikologi Lingkungan

Kesesakan (crowding) dan kepadatan (densitiy) merupakan fenomena yang akan

menimbulkan permasalahan bagi setiap negara di dunia di masa yang akan datang.

Hal ini dikarenakan terbatasnya luas bumi dan potensi sumber daya alam yang dapat

memenuhi kebutuhan hidup manusia, sementara perkembangan jumlah manusia di

dunia tidak terbatas.

Kesesakan dan kepadatan yang timbul dari perkembangan jumlah manusia di

dunia pada masa kini telah menimbulkan berbagai masalah sosial di banyak negara

(misalnya : Indonesia, India, Cina, dan sebagainya), baik permasalahan yang

bersifat fisik maupun psikis dalam perspektif psikologis. Contoh permasalahan sosial

yang nyata dalam perspektif psikologis dari kesesakan dan kepadatan penduduk

adalah semakin banyaknya orang yang mengalami stres dan berperilaku agresif

destruktif.

Berdasarkan fenomena yang muncul dari dari realitas kini dan perkiraan

berkembangnya dan timbulnya masalah di masa yang akan datang, maka dalam

perspektif psikologi lingkungan kiranya dipandang tepat untuk menjadikan

kesesakan dan kepadatan menjadi argumen bagi suatu pengkajian secara lebih dini

dan lebih mendalam dalam usaha mengantisipasi persoalan-persoalan sosial yang

pasti akan timbul pada masa kini dan masa yang akan datang.

Kepadatan mencakup banyak dimensi. Kepadatan tidak hanya mencakup

dimensi fisik seperti ukuran jumlah penduduk per wilayah atau jumlah orang per

rumah (kepadatan hunian dan kepadatan rumah) akan tetapi juga mengandung

aspek sosial, ekonomi, dan lain-lain.

Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi kepadatan perlu memperhatiakn

aspek lain di luar aspek fisik. Berbagai aspek tersebut terutama yang

menguntungkan kehidupan penduduk perlu dipertahankan sehingga kebiasaan dan

perilaku yang positif tetap dapat dipertahankan. Dengan demikian, identitas culturalpenduduk tetap terjaga, terutama tatanan sosial seperti misalnya interaksi sesama

penduduk, kebiasaan saling mengunjungi serta saling pinjam meminjam ada pada

upaya perbaikan pemukiman.

 

Di tinjau dari segi penduduk, terungkap bahwa rumah padat bagi penduduk

berarti rumah yang luasnya tidak sebanding dengan jumlah penghuninya, serta tidak

ada tempat bermain atau halaman. Kriteria ini sesuai dengan kriteria yang dianut

para ahli, akan tetapi ukuran lain seperti jumlah orang yang tidur dalam satu kamar,

jumlah ruangan dalam kamar, jumlah WC per orang/rumah, jumlah anak balita per

tempat tidur, dan lain-lain ukuran yang berkaitan dengan jumlah fasilitas perumahan

dengan jumlah penghuni tidak dirasakan sebagai ukuran kepadatan oleh penduduk.

Oleh karenanya, penyuluhan tentang hal ini perlu ditingkatkan tidak hanya oleh

Dinas Kesehatan tetapi juga Dinas Perumahan dan pihak-pihak lain yang berkaitan

dengan jumlah fasilitas perumahan dan jumlah penghuni tidak dirasakan sebagai

ukuran kepadatan (Surjadi et al., 1996).

Sangatlah mengherankan bahwa di negara-negara yang sedang berkembang,

dampak kepadatan yang berlebihan (overcrowding) terhadap kesehatan masih

belum banyak mendapat perhatian. Oleh Karena itu, pada tahun 1992, UNCHS

(habitat) minta kepada kelompok-kelompok konsultan internasional dan para peneliti

untuk meneliti dan mengidentifikasi hubungan timbal balik yang mendasar antara

kepadatan di dalam rumah (in-house crowding) dan kesehatan di daerah

perkampungan dengan masyarakat berpenghasilan rendah.

Analisa statistik dipusatkan pada identifikasi indikator-indikator kepadatan

yang bermakna (signifikan) untuk dampak kesehatan yang buruk (poor health

outcome), misalnya diare, batuk/demam (penyakit saluran pernapasan, dan berat

badan waktu lahir.

Parameter-parameter kepadatan, jumlah orang per ruangan (persons per

room) dan jumlah anak berusia di bawah lima tahun (balita) per ruang muncul

sebagai resiko yang bermakna untuk diare dan penyakit saluran pernapasan. Jumlah

orang per ruangan akan muncul terutama sebagai faktor risiko yang bermakna

dalam analisa multivariate bila dicari faktor resiko yang paling dominan.

Indikator kepadatan di dalam rumah, luas lantai (dalam m2) per orang atau

per anak balita juga muncul sebagai faktor resiko. Terlihat bahwa lantai rumah yang

kurang dari 10m2 per orang merupakan faktor resiko yang bermakna baik untuk

diare maupun batuk/demam. Indikator kepadatan yang lain yang dianalisa adalah

jumlah orang jumlah balita per keluarga dan luas kamar tidur atau kepadatan di

dalam kamar tidur. Tidak satupun dari indikator kepadatan ini muncul sebagai faktor

resiko yang bermakna. Kurang lebih 20% dari keluarga yang diteliti bertempat

tinggal dalam satu unit rumah bersama dengan kegiatan komersial (commercial

activity). Menyiapkan makanan untuk rumah makan yang berskala kecil dan

menyablon kaos dapat merupakan faktor resiko (Cowi, 1996).

Petambahan penduduk yang eksplosif dan lajunya arus urbanisasi ini jelas

merupakan beban bagi perkotaan. Salah satu masalah yang timbul adalah masalah

penyediaan pemukiman bagi penduduk, karena kebutuhan akan pemukiman sudah

merupakan kebutuhan masyarakat di samping sandang dan pangan. Pertambahan

penduduk dan keterbatasan lahan untuk pemukiman di kota menimbulkan daerah

yang semakin padat. Dalam tinjauan psikologi lingkungan, maka pemukiman

penduduk perkotaan pada umumnya mempunyai dua ciri, yaitu kepadatan (density)

dan kesesakan (crowding) yang tinggi.

Proporsi luas tanah untuk rumah tempat tinggal penduduk kota yang semakin

sempit menyebabkan kepadatan yang tinggi dan ruang untuk keperluan-keperluan

individu dan kelompok juga semakin menyempit. Menurut Holahan (1982), kepadatan (density) adalah sejumlah individu pada setiap ruang atau wilayah.

Altman (1975) membagi kepadatan menjadi kepadatan dalam dan kepadatan luar.

Kepadatan dalam berarti jumlah manusia dalam suatu ruangan, sedangkan

kepadatan luar berarti jumlah orang atau pemukiman di suatu wilayah. Dalam

hubungannya dengan kondisi psikologis penghunian rumah, kiranya apa yang

dikatakan oleh Holahan dan definisi kepadatan dalam dari Altman lebih bisa

diterapkan, dimana dalam setiap unit rumah dihuni oleh sejumlah orang.

Rumah merupakan lingkungan yang paling dekat dan penting bagi manusia

karena hampir setengah dari hidupnya dihabiskan di rumah (Awaldi, 1990). Parwati

(dalam Budiharjo, 1984) mengatakan bahwa fungsi rumah bagi orang hidup semakin

penting, di samping tempat berlindung, rumah juga berfungsi sebagai tempat

berlangsungnya proses dimana seorang individu diperkenalkan kepada nilai-nilai,

adat kebiasaan, yang berlaku dalam masyarakat, juga rumah berfungsi sebagai

tempat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup.

Mengingat pentingnya fungsi rumah sebaiknya rumah dapat dirasakan

sebagai suatu lingkungan psikologis yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman

bagi penghuninya dan perlu dihindarkan rumah yang terlalu sempit. Penyempitan

ruang individual dalam rumah akan menimbulkan berbagai macam permasalahan

psikologis yang serius. Suasana tidak nyaman tersebut disebabkan oleh banyaknya

anggota keluarga yang menempati rumah tersebut, banyaknya orang yang berlalu

lalang di sekitar rumah, dan jarak antar rumah yang terlalu dekat, serta suara

biasing yang mengganggu terus menerus. Kondisi ini jelas akan merugikan

perkembangan psikologis anggota keluarga, terutama pada anak-anak dan remaja.

Selain masalah kepadatan, ciri kedua dari pemukiman kota adalah kesesakan.

Pengertian kesesakan (crowding) adalah perasaan subyektif individu terhadap

keterbatasan ruang yang ada (Holahan, 1982) atau perasaan subyektif karena

terlalu banyak orang lain di sekelilingnya (Gifford, 1987). Kesesakan muncul apabila

individu berada dalam posisi terkungkung akibat persepsi subyektif keterbatasan

ruang, karena dibatasi oleh system konstruksi bangunan rumah dan terlalu

banyaknya stimulus yang tidak diinginkan dapat mengurangi kebebasan masingmasing

individu, serta interaksi antar individu semakin sering terjadi, tidak

terkendali, dan informasi yang diterima sulit dicerna (Cholidah et al., 1996)

Kepadatan memang dapat mengakibatkan kesesakan (crowding), tetapi

bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Setidaknya ada tiga

konsep yang dapat menjelaskan terjadinya kesesakan, yaitu teori information

overload, teori behavioral constraint, dan teori ecological model (Stokols dalam

Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Jain, 1987). Secara teoritis, ketiga

konsep tersebut dapat menjelaskan hubungan kepadatan fisik dengan kesesakan.

Kenyataan bahwa semakin padat suatu kawasan. Maka semakin banyak informasi

yang melintas di hadapan penghuni adalah dinamika yang tida terhindarkan. Bila

kemudian informasi tersebut melampaui batas kemampuan penerimaannya, maka

mulailah timbul masalah-masalah psikologis.

Semakin banyak penduduk dalam wilayah yang terbatas juga bisa

menyebabkan adanya constrain bagi individu dalam berperilaku sehari-hari. Konsep

ini berkaitan erat dengan pendekatan ekologis. Prinsipnya, ketika daya dukung

wilayah tidak mencukupi lagi maka lingkungan alam dan lingkungan sosial akan

saling terkait dalam menimbulkan masalah (Sulistyani et al., 1993).

Dalam suasana padat dan sesak, kondisi psikologis yang negatif mudah

timbul yang merupakan faktor penunjang yang kuat untuk munculnya stress dan

bermacam aktifitas sosial negatif (Wrightsman dan Deaux, 1981). Bentuk aktifitas

sosial negatif yang dapat diakibatkan oleh suasana padat dan sesak, antara lain : 1)

munculnya bermacam-macam penyakit baik fisik maupun psikis, seperti stres,

tekanan darah meningkat, psikosomatis, dan gangguan jiwa; 2) munculnya patologi

sosial, seperti kejahatan dan kenakalan remaja; 3) munculnya tingkah laku sosial

yang negatif, seperti agresi, menarik diri, berkurangnya tingkah laku menolong

(prososial), dan kecenderungan berprasangka; 4) menurunnya prestasi kerja dan

suasana hati yang cenderung murung (Holahan, 1982).

Menurut Baum et al.(dalam Evans, 1982), peristiwa atau tekanan yang

berasal dari lingkungan yang mengancam keberadaan individu dapat menyebabkan

stres. Bila individu tidak dapat menyesuaikan dengan keadaan lingkungannya, maka

akan merasa tertekan dan terganggu dalam berinteraksi dengan lingkungan dan

kebebasan individu merasa terancam sehingga mudah mengalami stres.

Kawasan padat dan sesak juga menyebabkan individu lebih selektif dalam

berhubungan dengan orang lain, terutama dengan orang yang tidak begitu

dikenalnya. Tindakan ini dilakukan individu untuk mengurangi stimuli yang tidak

diinginkan yang dapat mengurangi kebebasan individu. Tindakan selektif ini

memungkinkan menurunnya keinginan seseorang untuk membantu orang lain

(intensi prososial). Perilaku prososial adalah perilaku seseorang yang ditujukan pada

orang lain dan memberikan keuntungan fisik maupun psikologis bagi yang dikenakan

tindakan tersebut. Perilaku prososial mencakup tindakan-tindakan kerja sama,

membagi, menolong, kejujuran, dermawan serta mempertimbangkan kesejahteraan

orang lain (Mussen et al., 1979).

Perilaku prososial sangat penting artinya bagi kesiapan seseorang dalam

mengarungi kehidupan sosialnya. Karena dengan kemampuan prososial ini

seseorang akan lebih diterima dalam pergaulan dan akan dirasakan berarti

kehadirannya bagi orang lain (Cholidah, 1996).

Dalam pendekatan kognitif, pada teori psikologi lingkungan tentang rasa

sesak, Stanley Milgram (1970) menyimpulkan bahwa bila orang dihadapkan pada

stimulasi yang terlalu banyak, orang akan mengalami beban indera yang berlebihan

dan tidak akan dapat menghadapi semua stimulasi itu. Milgram yakin bahwa beban

indera yang berlebihan selalu bersifat tidak menyenangkan dan mengganggu

kemampuan seseorang untuk berfungsi secara tepat (Evans et al., 1996).

Ketika manusia dihadapkan pada situasi padat, yang dapat dipersepsikan

sebagai situasi yang mengancam eksistensinya, manusia melakukan adaptasi. Hal ini

berarti ada hubungan interaksionistis antara lingkungan dan manusia. Lingkungan

dapat mempengaruhi manusia, manusia juga dapat mempengaruhi manusia

(Holahan, 1982). Oleh karena bersifat saling mempengaruhi maka terdapat proses

adaptasi dari individu dalam menanggapi tekanak-tekanan yang berasal dari

lingkungan seperti yang dinyatakan oleh Sumarwoto (1991), bahwa individu dalam

batas tertentu mempunyai kelenturan. Kelenturan ini memungkinkan individu

menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kemampuan adapatasi ini mempunyai

nilai untuk kelangsungan hidup.

Akibat Kepadatan dan Kesesakan

Kesesakan biasanya menimbulkan stres secara fisik maupun psikis. Biasanya stres

ini terjadi pada individu yang menyukai jarak antarpribadi yang lebar atau menyukai

kesendirian. Menurut Gifford (1987, h. 179-183) Kesesakan yang dirasakan individu

dapat menimbulkan reaksi-reaksi pada:

a. Fisiologis dan kesehatan

Beberapa penelitian menyatakan bahwa kesesakan yang dialami dapat

berdampak pada fisiologis tubuh seperti peningkatan tekanan darah dan denyut

jantung. Hasil penelitian D’Atri; Epstein, Woolfolk & Lehrer serta Evans, (dalam

Gifford, 1987, h.179) menyatakan bahwa kepadatan yang tinggi mempengaruhi

tekanan darah dan fungsi jantung. Evans meneliti subjek dengan jenis kelamin

berbeda yang di tempatkan dalam ruangan yang sempit dan lapang selama tiga

setengah jam, detak jantung dan tekanan darah responden diukur sebelum dan

setelah eksperimen, ternyata diperoleh data terjadinya peningkatan denyut jantung

dan tekanan darah dalam ruang dengan kepadatan yang tinggi, dibanding dengan

ruang yang lapang. Selain peningkatan tekanan darah dan detak jantung,

kesesakan yang dialami dapat menyebabkan penyakit fisik berupa psikosomatik

seperti gangguan pencernaan, gatal-gatal bahkan kematian (Sarwono, 1995, h. 81)

b. Penampilan kerja

Reaksi kesesakan berkaitan dengan penampilan kerja tergantung pada jenis

pekerjaan yang dilakukan. Kepadatan yang tinggi lebih mempengaruhi pekerjaan

yang bersifat kompleks daripada pekerjaan yang sederhana, selain itu individu

yang yakin mampu menyelesaikan tugasnya dalam kepadatan yang tinggi tetap

dapat menampilkan performa kerja yang lebih baik daripada individu yang tidak

yakin dengan kemampuannya.

c. Interaksi sosial

Kepadatan yang tinggi mempengaruhi aspek tingkah laku sosial yakni

ketertarikan sosial, agresi, kerja sama, penarikan diri, tingkah laku verbal dan non

verbal bahkan humor. Kepadatan tinggi yang tidak diinginkan individu dapat

menimbulkan dampak sosial yang negatif seperti ketertarikan sosial yang

menurun, agresifitas yang meningkat, menurunnya kerja sama dan penarikan diri

secara sosial. Penarikan diri ini diwujudkan dengan berbagai cara seperti

meninggalkan tempat, menghindari topik yang bersifat pribadi dalam

perbincangan, mengucapkan kata-kata perpisahan, menunjukkan gerakan defens

atau mempertahankan diri, menolak permintaan atau ajakan lawan bicara,

menghindari kontak mata dan meningkatkan jarak antarpribadi.

d. Perasaan / afeksi

Kepadatan yang tinggi dapat menimbulkan emosi yang negatif seperti

kejengkelan dan ketidaknyamanan akibat ruang yang didapat tidak sesuai dengan

keinginan atau terhambatnya tujuan yang ingin dicapai karena kehadiran banyak

orang. Emosi yang positif muncul apabila individu berhasil mengatasi rasa sesak

dengan strategi penanggulangan masalah yang digunakan secara efektif.

e. Kendali dan strategi penanggulangan masalah

Kesesakan dapat menimbulkan kemampuan kontrol yang rendah, namun

informasi yang jelas dan akurat berkaitan dengan situasi yang padat membantu

individu memilih strategi penanggulangan masalah yang tepat untuk mengatasi

kesesakan yang timbul akibat ruang yang padat. Kemampuan dalam

mengembangkan strategi penanggulangan masalah pada tiap individu berbedabeda

dan dilakukan secara verbal maupun nonverbal yang pada akhirnya akan

membantu individu dalam beradaptasi dengan situasi yang menimbulkan

kesesakan.

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesesakan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan meliputi faktor individu, sosial dan

fisik (Gifford, 1987, h. 169-176) :

a. Faktor individu

Faktor individu terdiri atas kepribadian, minat dan harapan-harapan individu.

Faktor kepribadian meliputi kemampuan kontrol dalam diri individu. Kendali diri

internal yakni keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi lebih dipengaruhi oleh

diri individu sendiri dapat membantu individu menghadapi stres akibat kesesakan

yang dirasakan. Minat berkaitan dengan kecenderungan berafiliasi atau

bersosialisasi. Individu yang memiliki ketertarikan terhadap individu lain dalam

ruangan yang padat akan memiliki toleransi terhadap kesesakan yang lebih tinggi

daripada individu yang tidak memiliki kecenderungan untuk berafiliasi dengan

individu lain dalam ruang yang padat. Hal ini terlihat dalam penelitian Stuart

Miller, dkk (dalam Gifford, 1987, h. 169) pada tahun 1971 yang menyatakan

bahwa kecenderungan berafiliasi yang tinggi membantu individu menghadapi

kepadatan yang tinggi daripada ketika harus menghadapi kepadatan yang tinggi

seorang diri. Harapan atau prasangka juga mempengaruhi rasa sesak yang

dirasakan, individu yang berharap pertambahan orang baru hanya sedikit tidak

terlalu merasa sesak dibanding individu yang menyangka pertambahan orang baru

dalam ruangan akan lebih banyak dari keadaan sebenarnya. Selanjutnya

pengalaman pribadi akan mempengaruhi tingkat stres yang terjadi akibat

kepadatan yang tinggi. Individu yang telah terbiasa dengan situasi yang padat

akan lebih adaptif dan lebih bersikap toleran dalam menghadapi kepadatan dalam

situasi baru.

b. Faktor sosial

Faktor sosial antara lain kehadiran dan tingkah laku orang yang berjarak paling

dekat, koalisi yang terbentuk dalam kelompok-kelompok kecil dan informasi yang

diterima individu berkaitan dengan kesesakan yang dirasakan. Hambatan terhadap

tujuan yang ingin dicapai dapat menimbulkan stres. Ketika kepadatan meningkat,

privasi menjadi menurun sehingga individu harus berpikir keras untuk

menghadapi situasi yang menekan, gangguan secara fisik meningkat dan

kemampuan kontrol dapat berkurang. Faktor sosial lain adalah kualitas hubungan

diantara individu yang harus berbagi ruang. Individu yang memiliki cara pandang

yang sama akan merasa cocok satu sama lain dan lebih mudah menghadapi situasi

yang padat, sementara informasi yang jelas dan akurat akan membantu individu

menghadapi kesesakan yang dialami.

c. Faktor fisik

Faktor fisik meliputi keadaan ruang, bangunan, lingkungan, kota, dan arsitektur

bangunan seperti ketinggian langit-langit, penataan perabot, penempatan jendela

dan pembagian ruang. Menurut penelitian Baum, dkk (dalam Gifford, 1987, h.

176) pada tahun 1978, koridor yang panjang menimbulkan rasa sesak juga

persaingan dan penarikan diri secara sosial, menurunkan kerja sama, dan

menimbulkan kontrol diri yang rendah.

3 Aspek kesesakan

a. Aspek situasional, didasarkan pada situasi terlalu banyak orang yang saling

berdekatan dalam jarak yang tidak diinginkan sehingga menyebabkan gangguan

secara fisik dan ketidaknyamanan, tujuan yang terhambat oleh kehadiran orangorang

yang terlalu banyak, ruangan yang menjadi semakin sempit karena

kehadiran orang baru ataupun kehabisan ide.

b. Aspek emosional, menunjuk pada perasaan yang berkaitan dengan kesesakan

yang dialami, biasanya adalah perasaan negatif pada orang lain maupun pada

situasi yang dihadapi. Perasaan positif dalam kesesakan tidak dapat dipungkiri,

namun perasaan ini hanya terjadi jika individu berhasil menangani rasa sesak

dengan strategi penanggulangan masalah yang digunakan.

c. Aspek perilakuan, kesesakan menimbulkan respon yang jelas hingga samar

seperti mengeluh, menghentikan kegiatan dan meninggalkan ruang, tetap bertahan.

namun berusaha mengurangi rasa sesak yang timbul, menghindari kontak mata,

beradaptasi hingga menarik diri dari interaksi sosial.

Solusi yang Dapat Dilakukan

Adaptasi diartikan sebagai kapasitas individu untuk mengatasi lingkungan,

yang merupakan proses tingkah laku umum yang didasarkan atas faktor-faktor

psikologis untuk melakukan antisipasi kemampuan melihat tuntutan di masa yang

akan datang (Altman dalam Gifford, 1980). Dengan demikian, adaptasi merupakan

tingkah laku yang melibatkan perencanaan agar dapat mengantisipasi suatu

peristiwa di masa yang akan datang. Pengertian adaptasi sering dibaurkan dengan

pengertian penyesuaian. Adaptasi merupakan perubahan respon pada situasi,

sedangkan penyesuaian merupakan perubahan stimulus itu sendiri. Misalnya dalam

menghadapi air yang panas, penyesuaian diri dilakukan dengan memasukkan tangan

yang diselimuti kaos tangan, tetapi ketika orang melakukan adaptasi, orang berlatih

memasukkan tangan ke tempat air panas yang dimulai dari suku terrendah yang

2002 digitized by USU digital library 8

mampu memasukinya dan kemudian secara bertahap dinaikkan suhu air tersebut

(Sonnenfelt, 1966 dalam Baum et al, 1978) (Helmi, 1994)..

Tujuan adaptasi dikatakan Berry (Altman et al., 1985) untuk mengurangi

disonansi dalam suatu system, yaitu meningkatkan harmoni serangkaian variable

yang berinteraksi. Jika dikaitkan dengan interaksi manusia-lingkungan, disonansi

dalam suatu system dapat diartikan ada ketidakseimbangan transaksi antara

lingkungan dan manusia. Salah satu bentuk ketidakseimbangan tersebut adalah

tuntutan lingkungan yang melebihi kapasitas manusia untuk mengatasinya.

Salah satu upaya mencapai keseimbangan adalah melakukan pembiasaan

terhadap stimulus yang datang secara konstan, sehingga kekuatan stimulus

melemah (Heimstra & McFarling, 1978; Bell et al., dalam Gustinawati, 1990). Inilah

yang disebut adaptasi. Orang dikatakan mampu beradaptasi secara efektif jika dalam

situasi yang menekan, terjadi keseimbangan, baik dalam aspek psikis maupun fisik.

Indikator strategi adaptasi yang efektif dalam situasi kepadatan sosial yang tinggi

dilihat dari 3 aspek, yaitu aspek kesesakan (crowding), aspek kemampuan

konsentrasi, dan aspek tekanan darah (arousal). Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa adaptasi dalam situasi kepadatan sosial tinggi dilakukan dengan cara

membiasakan diri dalam situasi kepadatan sosial tinggi sampai dicapai kondisi yang

seimbang, yang tercermin dari rendahnya kesesakan, kemampuan berkonsentrasi,

dan tidak terjadi arousal.

Teori Kesesakan

A. Teori-Teori kesesakan
1. Teoari Beban Stimulus
Kesesakan akan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak (melebihi kapasitas kognitifnya) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungan.
Menurut Keating, Stimulus adalah hadirnya banyak orang dan aspek-aspek interaksinya, kondisi lingkunga fisik yang menyebabkan kepadatan social. Informasi yang berlebihan dapat terjadi karena :
a. Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
b. Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat
c. Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
d. Terlalu banyak mitra interaksi
e. Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama
2. Teori Ekologi
Membahas kesesakan dari sudut proses social
a. Menurut Micklin :
Sifat-sifat umum model pada ekologi manusia :
1. Teori ekologi perilaku : Fokus pada hubungan timbale balik antara manusia dan lingkungan.
2. Unit analisisnya : Kelompok social, bukan individu dan organisasi social memegang peranan penting
3. Menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial
b. Menurut Wicker :
Teori Manning : Kesesakan tidak dapat dipisahkan dari factor setting dimana hal itu terjadi.
3. Teori Kendala Perilaku
Kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu.Kesesakan akan terjadi bila system regulasi privasi seseorang tidak berjalan secara efektif lebih banyak kontak social yang tidak diinginkan. Kesesakan timbul karena ada usaha-usaha yang terlalu banyak, yang butuh energy fisik maupun psikis, guna mengatur tingkat interaksi yang diinginkan.

 

Daftar Pustaka

http://eprints.undip.ac.id/10507/1/Skripsi_V3.pdf

http://library.usu.ac.id/download/fk/psikologi-hasnida2.pd

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s