Memahami Seksualitas Diri

Posted: December 20, 2009 in Artikel

 

Beruntunglah yang memiliki seksualitas normal dalam arti masuk dalam kelompok mayoritas atau tampil sesuai norma masyarakat. Sebenarnya ada banyak variasi dalam masyarakat yang perlu kita pahami, kadang untuk lebih mengerti diri sendiri, atau untuk dapat memanusiakan manusia lain yang berbeda.
Minder dan tak mengerti
Cerita B: Dari kecil saya minder, pemalu, sering dikerjain sama teman-teman, baik fisik maupun psikis, sehingga cenderung menyendiri sampai sekarang. Dalam keseharian saya bertingkah sebagai laki-laki, tetapi saya terlahir seperti banci dan semua orang berpandangan seperti itu. Saat dewasa semua orang menyarankan menikah. Orang tak tahu bagaimana kalutnya aku dan siapa aku sebenarnya. Aku cenderung suka pada laki-laki, tetapi kadang kalau memikirkan norma agama dan kedepan, saya berusaha menekan perasaan itu.
Saya ingin menikah, hidup normal, punya keluarga kecil yang bahagia. Permasalahannya, apa ada yang mau menerima keadaan aku sebenarrnya. Saya terbiasa onani. Untuk menikah jelas tak mungkin, berhubungan dengan sesama jenis juga tak mungkin karena saya takut norma agama dan comoohan orang. Apalagi saya hidup didesa dan masyarakatnya belum bisa menerima orang seperti saya.
Permasalahan lain muncul, sekarang saya sering buang air kecil, kadang sampai keluar sedikit dicelana. Kadang kalau pas mengobrol dengan teman dan mereka mencemooh banci, saya jadi pilu.
Apakah saya harus menikah dan bagaimana mengatasi munculnya rasa tak nyaman berada dikeramaian, misalnya, saat kondangan atau pertemuan? Apakah onani berbahaya bagi kesehatan?
Sesungguhnya cukup banyak remaja dan orang muda mengalami kebingungan mengenai jati diri dan seksualitasnya. Apakah saya lesbian? Atau biseksual? Mengapa lahir dalam tubuh perempuan, padahal jiwa saya laki-laki?
Karena tubuh sempurna diidealkan, kadang rendahdiri terkait karena kondisi tubuh. Misalnya, Saya laki-laki mengapa badan sangat kecil dan kerempeng? Kegalauan itu yang dapat sanga t menyakitkan dan membingungkan. Sayang ada terlalu banyak pandangan normatif yang mengotak-kotakan, terlalu cepat menghakimi dan menghukum, yang sama sekai tidak menyelesaikan persoalan.
Variasi seksual
Barang kali keragaman manusia, termasuk dalam seksualitas, adalah fitrah. Kinsey dkk dalam penelatian klasiknya (1953) menemukan kontinum ketertarikan seksual manusia, mulai yang eksklusif heteroseksual, hingga eksklusif homoseksual, dengan banyak variasi ditengah. Meski dilakukan lebih dari 50 tahun lalu, penelitian ini masih sangat relevan, bahkan makin dikuatkan temuan-temuan lain pada masa kini.
Berbagai kajian ilmiah menemukan peran faktor genetik, neurobiologis, dan sosial psikologis, secara bersama atau sendiri. Hal itu dapat membantu lebih memahami keragaman seksualitas manusia, sekaligus meminimalkan stigma. Bila dulu homoseksualitas dianggap gangguan kejiwaan, Manual Penggolongan Gangguan Jiwa Asosaisi Psikiater Amerika dan digunakan banyak profesional kesehatan mental berbagai negara, termasuk Indonesia, kini tidak lagi mendiagnosisnya sebagai gangguan.
Kecuali individu itu sendiri menghayati tekanan sangat berat akibat keadaannya dan ingin mengubah diri. Selain itu, ada pula fenomena identitas jender minoritas, seperti laki-laki merasa terperangkap dalam badan perempuan atau sebaliknya. Juga ada anomali seksual, misalnya genitalia interseks yang tentu berdampak pada penghayatan psikologis manusia.
Bahagia meski ”berbeda”
Kembali ke kegalauan B. B sendiri yang dapat memutuskan apakah akan menikah atau tidak. Bila anda merasa fitra tertarik sama besar pada perempuan dan laki-laki, atau masih dapat belajar mencintai perempuan, barangkali dapat memutuskan untuk menikah. Bila tidak, memaksa diri menikah malah mendapat banyak masalah. Pada akhirnya manusia tidak dapat membohongi diri sendiri. Secara etis pula kita perlu jujur dan terbuka kepada pasangan mengenai karakteristik diri.
Tentang onani, secara psikologis kita semua makhluk seksualjuga yang memiliki hasrat seksual. Jadi, hal tersebut manusiawi saja, juga lebih aman bagi diri sendiri maupun orang lain. Bayangkan bila karena tidak ada pasangan seksual lalu kita berhubungan dengan senbarang orang, atau malah melakukan kekerasan seksual kepada pihak lain. Bukan kah itu lebih berbahaya? Walau demikian B perlu merefleksi, apakah tindakannya terlalu berlebihan dan menjadi bentuk pelarian diri. Segala yang berlebihan berdampak kurang baik.
Klein (1990) mendefinisikan orientasi seksual lebih luas, luwes sekaligus inklusif. Orientasi seksual mencakup banyak hal, ketertarikan seksual, fantasi seksual, gaya hidup, preferensi emosional, hingga identifikasi diri. Konsep ini memberi pilihan banyak bagi manusia menyesuaikan diri dalam norma masyarakat sekaligus tetap mengakui keunikan pribadi. Misalnya, tidak menikah dan mentransformasi ketertarikan romantis menjadi hubungan persahabatan. Bila perlu, induvidu intra seks dapat menjalani operasi organ seksual seandainya membantu ketenangan diri.
Seksualitas manusia sangat kompleks, yang tidak dapat kita diskusikan tuntas dalam ruang terbatas ini. Menjadi homoseksual, biseksual, atau heteroseksual tidak bicara apa-apa tentang baik buruk, benar-salah, atau martabat. Singkat kata, nilai manusia jauh melampaui identitas seksualnya. Meski harus melalui perjalanan jauh lebih sulit dan lam, semoga yang merasa berbeda juga dapat menerima diri serta menemukan kebahagiaan dan makna kehadiran kemanusiaannya.

Beruntunglah yang memiliki seksualitas normal dalam arti masuk dalam kelompok mayoritas atau tampil sesuai norma masyarakat. Sebenarnya ada banyak variasi dalam masyarakat yang perlu kita pahami, kadang untuk lebih mengerti diri sendiri, atau untuk dapat memanusiakan manusia lain yang berbeda.Minder dan tak mengertiCerita B: Dari kecil saya minder, pemalu, sering dikerjain sama teman-teman, baik fisik maupun psikis, sehingga cenderung menyendiri sampai sekarang. Dalam keseharian saya bertingkah sebagai laki-laki, tetapi saya terlahir seperti banci dan semua orang berpandangan seperti itu. Saat dewasa semua orang menyarankan menikah. Orang tak tahu bagaimana kalutnya aku dan siapa aku sebenarnya. Aku cenderung suka pada laki-laki, tetapi kadang kalau memikirkan norma agama dan kedepan, saya berusaha menekan perasaan itu.Saya ingin menikah, hidup normal, punya keluarga kecil yang bahagia. Permasalahannya, apa ada yang mau menerima keadaan aku sebenarrnya. Saya terbiasa onani. Untuk menikah jelas tak mungkin, berhubungan dengan sesama jenis juga tak mungkin karena saya takut norma agama dan comoohan orang. Apalagi saya hidup didesa dan masyarakatnya belum bisa menerima orang seperti saya.Permasalahan lain muncul, sekarang saya sering buang air kecil, kadang sampai keluar sedikit dicelana. Kadang kalau pas mengobrol dengan teman dan mereka mencemooh banci, saya jadi pilu.Apakah saya harus menikah dan bagaimana mengatasi munculnya rasa tak nyaman berada dikeramaian, misalnya, saat kondangan atau pertemuan? Apakah onani berbahaya bagi kesehatan?Sesungguhnya cukup banyak remaja dan orang muda mengalami kebingungan mengenai jati diri dan seksualitasnya. Apakah saya lesbian? Atau biseksual? Mengapa lahir dalam tubuh perempuan, padahal jiwa saya laki-laki?Karena tubuh sempurna diidealkan, kadang rendahdiri terkait karena kondisi tubuh. Misalnya, Saya laki-laki mengapa badan sangat kecil dan kerempeng? Kegalauan itu yang dapat sanga t menyakitkan dan membingungkan. Sayang ada terlalu banyak pandangan normatif yang mengotak-kotakan, terlalu cepat menghakimi dan menghukum, yang sama sekai tidak menyelesaikan persoalan.Variasi seksualBarang kali keragaman manusia, termasuk dalam seksualitas, adalah fitrah. Kinsey dkk dalam penelatian klasiknya (1953) menemukan kontinum ketertarikan seksual manusia, mulai yang eksklusif heteroseksual, hingga eksklusif homoseksual, dengan banyak variasi ditengah. Meski dilakukan lebih dari 50 tahun lalu, penelitian ini masih sangat relevan, bahkan makin dikuatkan temuan-temuan lain pada masa kini.Berbagai kajian ilmiah menemukan peran faktor genetik, neurobiologis, dan sosial psikologis, secara bersama atau sendiri. Hal itu dapat membantu lebih memahami keragaman seksualitas manusia, sekaligus meminimalkan stigma. Bila dulu homoseksualitas dianggap gangguan kejiwaan, Manual Penggolongan Gangguan Jiwa Asosaisi Psikiater Amerika dan digunakan banyak profesional kesehatan mental berbagai negara, termasuk Indonesia, kini tidak lagi mendiagnosisnya sebagai gangguan.Kecuali individu itu sendiri menghayati tekanan sangat berat akibat keadaannya dan ingin mengubah diri. Selain itu, ada pula fenomena identitas jender minoritas, seperti laki-laki merasa terperangkap dalam badan perempuan atau sebaliknya. Juga ada anomali seksual, misalnya genitalia interseks yang tentu berdampak pada penghayatan psikologis manusia.Bahagia meski ”berbeda”Kembali ke kegalauan B. B sendiri yang dapat memutuskan apakah akan menikah atau tidak. Bila anda merasa fitra tertarik sama besar pada perempuan dan laki-laki, atau masih dapat belajar mencintai perempuan, barangkali dapat memutuskan untuk menikah. Bila tidak, memaksa diri menikah malah mendapat banyak masalah. Pada akhirnya manusia tidak dapat membohongi diri sendiri. Secara etis pula kita perlu jujur dan terbuka kepada pasangan mengenai karakteristik diri.Tentang onani, secara psikologis kita semua makhluk seksualjuga yang memiliki hasrat seksual. Jadi, hal tersebut manusiawi saja, juga lebih aman bagi diri sendiri maupun orang lain. Bayangkan bila karena tidak ada pasangan seksual lalu kita berhubungan dengan senbarang orang, atau malah melakukan kekerasan seksual kepada pihak lain. Bukan kah itu lebih berbahaya? Walau demikian B perlu merefleksi, apakah tindakannya terlalu berlebihan dan menjadi bentuk pelarian diri. Segala yang berlebihan berdampak kurang baik.Klein (1990) mendefinisikan orientasi seksual lebih luas, luwes sekaligus inklusif. Orientasi seksual mencakup banyak hal, ketertarikan seksual, fantasi seksual, gaya hidup, preferensi emosional, hingga identifikasi diri. Konsep ini memberi pilihan banyak bagi manusia menyesuaikan diri dalam norma masyarakat sekaligus tetap mengakui keunikan pribadi. Misalnya, tidak menikah dan mentransformasi ketertarikan romantis menjadi hubungan persahabatan. Bila perlu, induvidu intra seks dapat menjalani operasi organ seksual seandainya membantu ketenangan diri.Seksualitas manusia sangat kompleks, yang tidak dapat kita diskusikan tuntas dalam ruang terbatas ini. Menjadi homoseksual, biseksual, atau heteroseksual tidak bicara apa-apa tentang baik buruk, benar-salah, atau martabat. Singkat kata, nilai manusia jauh melampaui identitas seksualnya. Meski harus melalui perjalanan jauh lebih sulit dan lam, semoga yang merasa berbeda juga dapat menerima diri serta menemukan kebahagiaan dan makna kehadiran kemanusiaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s