Memaafkan yang Sok Jumawa

Posted: October 26, 2009 in Artikel

Mungkin kita pernah bertemu, bekerja sama, atau bahkan hidup bersama dengan orang yang ‘sok jumawa’. Tindakanya sangat menyakiti hati, tetapi ia tidak sama sekali merasa bersalah, bahkan terus merendahkan kita.

Situasi relasi suami istri sangat kompleks. Sejak awal mungkin telah ada perbedaan besar dalam latar belakang budaya, karakteristik kepribadian, serta cara pandang mengenai relasi gender. Ny I di besarkan dalam lingkungan yang membebaskan, menghargai perempuan, sementara suami terbiasa melihat perempuan di nomorduakan, harus patuh dan direndahkan.

Karakteristik kepribadian dan pola penyelesaian masalah juga berbeda. Ny I memerlukan ruang bagi diri sendiri. Ia memiliki aspirasi dan minat besar untuk berhubungan sosial dan mengembangkan diri. Ia mengharapkan suami memahami dan memberi penghargaan, sedangkan suami terbentuk menjadi individu yang selalu membenarkan diri dibalik identitas sebagai laki-laki dan suami. Ia menuntut hak tetapi lupa kewajiban.

Meski aspirasi diri tinggi, Ny I masih dikungkung peran stereotip perempuan yang harus patuh, menghormat, melayani. Apalagi ia menjunjung tinggi agama, dan lingkunganya yang menentang perceraian akan menyalahkan istri yang tidak mampu mejaga keutuhan keluarga. Tanpa disadari semua hal diatas berdampak sangat menekan.

Hidup dengan pasangan yang merendahkan mungkin membuat kita menghayati berbagai emosi negatif: takut, terancam, bingung, marah. Kita mencoba bertahan karena harus membesarkan anak dan bekerja untuk keluarga.

Yang kemudian kita hayati adalah konflik kebingungan, dan rasa tak berdaya yang intens. Ny I mengalami ketakutan akan dipersalahkan dan diawasi anak-anak dan keluarga besar. Ia takut dan gemetar bila berdekatan dengan suami yang tampil sebagai sosok menakutkan dan megancam.

Sangat memprihatinkan bila kita kemudian seolah kehilangan kepercayaan dan kendali atas hidup kita sendiri. Yang terjadi pada Ny I menjadi pembelajaran bagi kita. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi dalam konteks kerja.

Bagaimana memberi ketenangan dan kedamaian bagi diri sendiri? Kita perlu merenung kembali. Barang kali pada masa lalu ada satu atau dua tindakan atau kata-kata pihak lain yang menjadi faktor pencetus luka sangat dalam?

Mungkin hal itu bertumpuk banyak dengan hal lain yang membuat kita takut, marah, atau muak.

Bila kita dapat menemukanya, kita lebih mudah memberi pamaknaan baru terhadap apa yang pernah terjadi dan menemukan kembali keberdayaan untuk mengendalikan diri.

Ny I perlu mengingat lagi hal positif dari dirinya, seperti pekerjaan yang baik atau teman kerja yang menyenangkan. Ia perlu lebih tegas berbagi peran dengan anak dengan mengatakan ”maaf saya juga butuh waktu untuk diri sendiri”. Tugas menjaga ayah bukan cuma tugas mama. Jadi malam ini tolong kalian menggantikan.

Yang dapat dilakukan adalah menulis surat, bisa bagi diri sendiri atau untuk pihak yang menyakiti kita. Dalam faktanya surat tidak perlu dikirim karena tujuanya untuk lebih membantu diri sendiri. Kita menulis untuk menyisir kekacauan dan kebingungan perasaan demi menemukan jalan keluar bagi diri sendiri.

Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita tulis:

  1. Curahkan semua rasa kecewa, sakit hati, marah, dan emosi lain.

  2. Upaya menjelaskan bagi diri sendiri mengapa sampai dia melakukan tindakan demikian.

  3. Pemaknaan baru mengenai apa yang telah terjadi serta bagaiman akan melihat masa depan

Seseorang yang memiliki kendali atas hidup akan mampu menerima apa yang terjadi, yrmasuk hal menyakitkan, tetapi dapat tetap berajak menata masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s