KEDRT Vs Libido

Posted: October 26, 2009 in Artikel

KDRT adalah istilah popular tentang kekerasan fisik/psikis yang dilakukan salah satu anggota keluarga terhadap anggota keluarga lain.

Asosiasi orang terhadap istilah tersebut biasanya tertuju pada perlakuan kekerasan fisik yang dilakukan suami terhadap istri, walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi kasus yang sebaliknya tindak kekerasan istri terhadap suami.

Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tidak hanya menyebabkan pecahnya gendang telinga istri, bibir robek, badan memar tetapi sekaligus mendapat kekerasan emosional (KEDRT), seperti makian, cercaan, bentakan bertubi, dan pelecehan. Itu terjadi di rumah maupun di tempat ramai, bahkan diantara teman sepergaulan yang mengakibatkan luka batin mulai dari tingkat ringan moderat, sampai intens pada istri.

Penderita KDRT fisik biasanya lebih cepat mengundang rasa kasihan keluarga atau kerabat karena tampak jelas penderitaan fisiknya, sementara penderita KEDRT lebih terselubung. Kebanyakan orang tidak mengetahui dan menyadari dampaknya. Kalau pun penderita mengeluh, banyak orang tidak percaya karena umumnya orang menilai kondisi perkawinan melulu dari aspek fisik materi. Biasanya orang akan mengatakan, “Wah dia kerjanya mengeluh terus. Padahal kurang apa dia, rumah punya, mobil ada, uang banyak, apa lagi sih?”

Libido adalah istilah yang dikenalkan psikoanalisis Sigmund Freud untuk kekuatan energi boipsikofisik yang mendorong manusia betumbuh dan berkembang. Libido seksual mengandung unsur gairah, sensitivitas, dan kepekaan sensomotorik yang memicu kadar ketertarikan erotis-seksual seseorang.

Bila dibandingkan dengan lelaki, pada perempuan libido seksual tersebut sangat dipengaruhi penghayatan emosional dan kehidupan perasaan.

Semakin tinggi perlakuan KEDRT dari suami, semakin menurun libido seksual istri dan semakin terpupuk kebencian terhadap suami. Artimya, perlakuan Perlakuan KEDRT menjadi boomerang bagi si pelaku sehingga kebahagiaan, keutuhan kasih sebagai pasangan suami-istri, dan kepuasan pernikahan pun menjadi jauh dari jangkauan.

Hakihat seksualitas terletak pada kebahagiaan total oleh jalinan kasih sayang tulus, saling menghargai, menghormati, dan memerhatikan dalam ikatan perkawinan. Untuk mengharapkan cinta tulus dari pasangan perkawinan, kita harus mampu membuat diri kita dapat dicintai.

Jadi kenapa kita tidak mawas diridan mulai memperlakukan pasangan kita dengan kemesraantulus penuh kasih, tidak dengan bentakan, makian, cacian berlanjut tanpa ujung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s