Ketergantungan Emosional Ibu Terhadap Anak

Posted: December 20, 2009 in Artikel

 

Umumnya anak yang  dimanjakan orangtuanya tidak pernah menjadi dewasa di kemudian hari. Anak kelak tidak mampu melepaskan diri dari orangtuanya sehingga kedua orangtua selalu harus siap mendukung dan meluruskan permintaan anak. Proses perkembangan kemandirian anak terhambat.
Bagaimana perkembangan jiwa anak dalam kasus dibawah ini? Apakah anak yang selalu bergantung secara emosional terhadap orangtua atau sebaliknya?
“Bu, anak saya kelas V SD, sering marah tidak terkendali. Padahal disekolah dia anak manis, penurut dan sangat disukai gurunya. Nilai pelajaranya selalu baik dari kelas I SD. Yang agak membingungkan bila Ayahnya marah dia pasti melawan dengan memelototkan matanya, seraya membanting barang dihadapannya.
Saya dan Ayahnya sudah menasihati, emosi seperti itu tidak baik, apalagi berani melawan ayahnya, tetapi ia tetap mengulangi kelakuannya. Pada sisi lain ia terkesan sensitif, cengeng, bisa dikatakan keperempuan-perempuanan. Siang hari sepulang sekolah ia akan menelepon saya  atau ayahnya dan akhir percakapan akan mengatakan ’ Hati-hati ya ibu, hati-hati ya ayah’ Saya khawatir akan keperempuanan dan emosionalitasnya yang berlebihan. Apa yang harus saya lakukan, Bu?
Saya dan suami sering bertengkar. Suami emosional, sering teriak, memaki, walaupun tidak pernah melempar barang. Masalah saya dengan suami serasa tidak pernah tuntas walaupun perkawinan sudah 16 tahun, Anak pertama, perempuan 14 tahun dan adiknya lelaki 11 tahun.
Bila suami menghadapi masalah dikantor dan pulang dalam keadaan stress, maka ia akan uring-uringan tidak jelas. Bila saya mencoba bertanya, bisa terjadi emosinya meledak tanpa alasan yang jelas. Terkadang bila suami sudah merasa terpojok pertanyaam saya, ia akan kembali mempermasalahkan tuduhan perselingkuhan saya dengan teman kantor sekitar 10 tahun yang lalu.
Saya sudah berulang kali meminta maaf dan mengatakan saya tidak berselingkuh. Saat itu kebetulan saja saya harus mengurus sesuatu terkait tugas kantor yang karena tidak ada sopir kantor terpaksa pergi satu mobil dengan teman tersebut. Suami memergoki keberadaan saya berdua dimobil teman kantor tadi.
Pertengkaran hebat terjadi 10 tahun lalu saat usia anak pertama 3 tahun dan saya sedang hamil adiknya. Setelah beberapa saat memang pertengkaran berhenti, tetapi selalu suami memojokan saya pada masalah tersebut. Setelah lelah bertengkar kami sepakat berbaikan dan meneruskan perkawinan kami. Apalagi saat itu saya sedang hamil.
Tetapi terus terang apa yang kami sepakati tidak berjalan mulus. Selalu saja ia mengungkit, kesal dan marah-marah. Saya ingat betul selama saya hamil anak kedua suami tidak memerhatikan saya. Saya sedih dan sering menangis sendiri.
Setelah anak itu lahir dan cukup besar untuk memahami orang lain, dialah yang paling mampu merasakan dan mengerti kondisi perasaan saya. Ia sangat dekat dengan saya dan saya mersa mendapat perlindungan dari ketakutan akan kemarahan ayahnya. Anak ini juga yang saya rasa dapat menjadi penyalur kemarahan dan kejengkelan saya kepada ayahnya. Saya tidak mau anak itu mengembangkan keperempuanannya, cengeng dan emosional. Apa yang harus kami lakukan sebagai orangtua?
Analisis
Kedekatan dan ketertarikan emosional antara anak lelaki dan ibunya yang kuat rupanya menjadi peluang anak yang justru mengambil alih hakikat keperempuanan sang ibu. Hal ini ditunjang sikap perlawanan anak pada perlakuan ayah kepada ibunya sehingga pengambilalihan hakikat kelakian dari figur sang ayah terhambat. Pada sisi lain, sikap emosional tak terkendali saat anak kesal terhadap ayahnya merupakan perilaku imitatif, meniru sikap emosional ayah. Anak merasa cara marah ayah adalah cara yang paling tepat. Tetapi rasa bela pati anak terhadap ibu membuat sikap emosional tersebut tertuju kepada ayahnya. Pada saat bersamaan ibu merasa terbela sehingga tanpa sadar merupakan faktor penguat yang membuat anak terbiasa memiliki sikap emosional tersebut dirumah.
 Dia bisa jadi anak manis disekolah karena keterkaitan emosional dengan ibu yang manis memungkinkan anak mengambil alih karakteristik figur ibu yang manis dan penurut. Di sekolah, dengan sikap yang manis, dia disukai guru, apalagi dia tidak mendapat stimulasi emosional seperti halnya terjadi dirumah
Inter-relasi yang tercipta antara ibu dan anak lelaki ditandai ketergantungan ibu akan perlindungan anak lelaki yang masih dibawah umur dari kecemasan, kejengkelan, dan perasaan ketidakadilan ibu saat ungkapan emosional suami meledak tak terduga.
Solusi
Ayah seyogianya segera menuntaskan masalahnya dengan istri sehingga tidak selalu mengganjal hati. Hargai permintaan maaf istri dan sikap positif yang ditunjukan istri selama 10 tahun terakhir.
Ayah segera meningkatkan intensitas, kuantitas, dan kulitas relasi dengan anak lelakinya mumpung anak belum masuk ke masa remaja dengan cara membawa anak beraktivitas bersama, mendiskusikan pekerjaannya, menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak lelaki, seperti berolahraga bersama, agar anak mendapat peluang menyadari identitas fisik lelaki harus disertai hakikat kelakian dalam dirinya
Iklim keluarga yang tenang dan nyaman diharapkan menjadi lingkungan kondusif bagi tumbuh kembang optimal anak.

Umumnya anak yang  dimanjakan orangtuanya tidak pernah menjadi dewasa di kemudian hari. Anak kelak tidak mampu melepaskan diri dari orangtuanya sehingga kedua orangtua selalu harus siap mendukung dan meluruskan permintaan anak. Proses perkembangan kemandirian anak terhambat.Bagaimana perkembangan jiwa anak dalam kasus dibawah ini? Apakah anak yang selalu bergantung secara emosional terhadap orangtua atau sebaliknya?“Bu, anak saya kelas V SD, sering marah tidak terkendali. Padahal disekolah dia anak manis, penurut dan sangat disukai gurunya. Nilai pelajaranya selalu baik dari kelas I SD. Yang agak membingungkan bila Ayahnya marah dia pasti melawan dengan memelototkan matanya, seraya membanting barang dihadapannya.Saya dan Ayahnya sudah menasihati, emosi seperti itu tidak baik, apalagi berani melawan ayahnya, tetapi ia tetap mengulangi kelakuannya. Pada sisi lain ia terkesan sensitif, cengeng, bisa dikatakan keperempuan-perempuanan. Siang hari sepulang sekolah ia akan menelepon saya  atau ayahnya dan akhir percakapan akan mengatakan ’ Hati-hati ya ibu, hati-hati ya ayah’ Saya khawatir akan keperempuanan dan emosionalitasnya yang berlebihan. Apa yang harus saya lakukan, Bu?Saya dan suami sering bertengkar. Suami emosional, sering teriak, memaki, walaupun tidak pernah melempar barang. Masalah saya dengan suami serasa tidak pernah tuntas walaupun perkawinan sudah 16 tahun, Anak pertama, perempuan 14 tahun dan adiknya lelaki 11 tahun.Bila suami menghadapi masalah dikantor dan pulang dalam keadaan stress, maka ia akan uring-uringan tidak jelas. Bila saya mencoba bertanya, bisa terjadi emosinya meledak tanpa alasan yang jelas. Terkadang bila suami sudah merasa terpojok pertanyaam saya, ia akan kembali mempermasalahkan tuduhan perselingkuhan saya dengan teman kantor sekitar 10 tahun yang lalu.Saya sudah berulang kali meminta maaf dan mengatakan saya tidak berselingkuh. Saat itu kebetulan saja saya harus mengurus sesuatu terkait tugas kantor yang karena tidak ada sopir kantor terpaksa pergi satu mobil dengan teman tersebut. Suami memergoki keberadaan saya berdua dimobil teman kantor tadi.Pertengkaran hebat terjadi 10 tahun lalu saat usia anak pertama 3 tahun dan saya sedang hamil adiknya. Setelah beberapa saat memang pertengkaran berhenti, tetapi selalu suami memojokan saya pada masalah tersebut. Setelah lelah bertengkar kami sepakat berbaikan dan meneruskan perkawinan kami. Apalagi saat itu saya sedang hamil.Tetapi terus terang apa yang kami sepakati tidak berjalan mulus. Selalu saja ia mengungkit, kesal dan marah-marah. Saya ingat betul selama saya hamil anak kedua suami tidak memerhatikan saya. Saya sedih dan sering menangis sendiri.Setelah anak itu lahir dan cukup besar untuk memahami orang lain, dialah yang paling mampu merasakan dan mengerti kondisi perasaan saya. Ia sangat dekat dengan saya dan saya mersa mendapat perlindungan dari ketakutan akan kemarahan ayahnya. Anak ini juga yang saya rasa dapat menjadi penyalur kemarahan dan kejengkelan saya kepada ayahnya. Saya tidak mau anak itu mengembangkan keperempuanannya, cengeng dan emosional. Apa yang harus kami lakukan sebagai orangtua?

AnalisisKedekatan dan ketertarikan emosional antara anak lelaki dan ibunya yang kuat rupanya menjadi peluang anak yang justru mengambil alih hakikat keperempuanan sang ibu. Hal ini ditunjang sikap perlawanan anak pada perlakuan ayah kepada ibunya sehingga pengambilalihan hakikat kelakian dari figur sang ayah terhambat. Pada sisi lain, sikap emosional tak terkendali saat anak kesal terhadap ayahnya merupakan perilaku imitatif, meniru sikap emosional ayah. Anak merasa cara marah ayah adalah cara yang paling tepat. Tetapi rasa bela pati anak terhadap ibu membuat sikap emosional tersebut tertuju kepada ayahnya. Pada saat bersamaan ibu merasa terbela sehingga tanpa sadar merupakan faktor penguat yang membuat anak terbiasa memiliki sikap emosional tersebut dirumah. Dia bisa jadi anak manis disekolah karena keterkaitan emosional dengan ibu yang manis memungkinkan anak mengambil alih karakteristik figur ibu yang manis dan penurut. Di sekolah, dengan sikap yang manis, dia disukai guru, apalagi dia tidak mendapat stimulasi emosional seperti halnya terjadi dirumahInter-relasi yang tercipta antara ibu dan anak lelaki ditandai ketergantungan ibu akan perlindungan anak lelaki yang masih dibawah umur dari kecemasan, kejengkelan, dan perasaan ketidakadilan ibu saat ungkapan emosional suami meledak tak terduga.
SolusiAyah seyogianya segera menuntaskan masalahnya dengan istri sehingga tidak selalu mengganjal hati. Hargai permintaan maaf istri dan sikap positif yang ditunjukan istri selama 10 tahun terakhir.Ayah segera meningkatkan intensitas, kuantitas, dan kulitas relasi dengan anak lelakinya mumpung anak belum masuk ke masa remaja dengan cara membawa anak beraktivitas bersama, mendiskusikan pekerjaannya, menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak lelaki, seperti berolahraga bersama, agar anak mendapat peluang menyadari identitas fisik lelaki harus disertai hakikat kelakian dalam dirinyaIklim keluarga yang tenang dan nyaman diharapkan menjadi lingkungan kondusif bagi tumbuh kembang optimal anak.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s